Aja lali marang kabecikaning liyan *** Aja sira degsura, ngaku luwih pinter tinimbang sejene *** Aja rumangsa bener dhewe, jalaran ing donya iki ora ana sing bener dhewe *** Aja wedi kangelan, jalaran urip aneng donya iku pancen angel *** Aja gawe seriking ati liyan *** Aja golek mungsuh *** Aja sira mulang gething marang liyan jalaran iku bakal nandur cecongkahan kang ora ana wusanane *** Aja ngumbar hawa napsu, mundhak sengsara uripmu *** Aja melik darbeking liyan *** Aja cidra ing janji *** Aja dumeh *** Aja kumalungkung *** Aja kumingsun *** Aja gumedhe *** Aja ngrusak pager ayu *** Aja dahwen *** Aja drengki *** Aja kuminter *** Aja ambeg siya *** Aja ngece wong ora duwe *** Aja kegedhen rumangsa *** Aja adigang-adigung-adiguna *** Aja nggege mangsa *** Aja nampik rejeki *** Aja panasten *** Aja seneng gawe gendra, jalaran gawe gendra iku sipating demit *** Aja seneng yen dialem, aja sengit yen cinacad *** Aja lali piwulang becik *** Aja aweh kasekten marang durjana *** Aja lali marang kahanan kang marakake perang, jalaran yen sira tansah lali bakal tansah ana perang bae *** Aja selingkuh *** Aja seneng madon *** Aja seneng main *** Aja seneng maido *** Aja seneng madad *** Aja seneng nyaru *** Aja bosenan/jelehan *** Aja nggebyah uyah padha asine *** Aja dadi wong pinter keblinger *** Aja mung tuwa tuwas *** Aja golek menange dhewe *** Aja gampang kelu ing swara *** Aja taberi utangan *** Aja seneng royal *** Aja pisan nacad liyan, ora ana wong kang ora cacad *** Aja wedi marang penggawe becik, lan wani marang penggawe ala *** Aja seneng nggampangake
Tampilkan postingan dengan label Uneg-uneg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uneg-uneg. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Maret 2010

Cerita Menjelang Tidur...

Akhir-akhir ini Direktorat Jenderal Pajak sedang dalam sorotan masyarakat. Semua itu berawal dari terbongkarnya ulah oknum pegawainya yang patut diduga telah melakukan tindakan yang menguntungkan dirinya sendiri. Akibatnya, pegawai pajak lainnya juga diberi label yang sama oleh masyarakat luas.

Berikut ini saya sampaikan sepenggal cerita yang ditulis oleh Sdri. Jingga Rosti Sulanjari, yang saya "copas" dari sebuah forum diskusi. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya.

Kok belum tidur, sayang?

Aku belum ngantuk, bunda....

Ini udah malem loh, besok pagi sekolah khan? Kamu kok kelihatannya murung banget?

Aku sedih, bunda...

Sedih kenapa?

Aku di sekolah diejek temen-temen, bunda.. Aku gak mau masuk sekolah lagi... Sekolah itu isinya jahat semua... Katanya ayah sama bunda itu temennya Jayus.. Katanya Jayus itu jahat, ambil uang rakyat, jadi ayah sama bunda juga jahat.. Emangnya begitu ya, bunda? Kenapa ayah sama bunda dibilang jahat sama mereka? Padahal ayah khan ayah paling baiiiiiiiiik sedunia.. Bunda juga.. Iya khan, bunda? Mereka yang jahat ngejek-ngejek aku begitu...

Hmmm, mereka cuma gak tau, sayang... Gini, gimana kalo bunda ceritain sebuah cerita buat kamu?

Cerita apa, bunda?

Cerita` tentang sebuah kerajaan di suatu hutan jaman dahulu kala.

Waaaah, ada rajanya dong, bunda? Rajanya mirip ayah gak?

Hoho9, ada rajanya, tapi gak mirip ayah, mau diceritain gak nih?

Mau mau mauuuu, bundaaaa....

Ehm, ehm... Once upon a time.... Pada jaman dahulu kala... Di sebuah hutan terdapatlah sebuah kerajaan binatang. Kerajaan ini dipimpin oleh seekor singa yang amat bijaksana.

Waaah, singanya besar, bunda? Aku suka lihat singa, kerennnn.... Aummm...

Hehe, iya.. Singa itu besar, besaaaaaaaaarrrr sekali. Nahh, Singa ini dibantu oleh para staf kerajaan lainnya. Ada Jerapah si sekretaris kerajaan, Macan si bendahara kerajaan, Tikus si kepala dewan rakyat, Gajah si hakim kerajaan, Buaya si penjaga keamanan kerajaan, dan masih banyak lagi staf kerajaan lainnya.

Monyet jadi apa, bunda?

Monyet? Umm, Monyet jadi anggota penghibur kerajaan, seperti kamu yang selalu suka melihat topeng monyet bukan?

Iya, iya, monyet lucu, bunda...

Nah kita lanjut ya ceritanya.. Jadi suatu ketika Buaya si penjaga keamanan kerajaan menemukan adanya suatu kejanggalan dalam kerajaan. Kemudian Buaya membeberkan kejanggalan ini di depan publik, di depan seluruh warga kerajaan hutan tersebut. Dalam pidatonya itu Buaya menyebut beberapa pihak yang ikut andil dalam kejanggalan yang terjadi tadi.

Kejanggalan itu apa, bunda? Aku gak ngerti....

Hmm, kejanggalan apa yaa,, gini, kamu tahu khan, sayang, kalau orang jahat harus dihukum dengan setimpal?

Iya, iya, aku tahu.. Orang jahat harus dihukum...

Nah kejanggalan ini seperti membela yang jahat, melindungi yang jahat, jadi ada yang jahat dalam kerajaan itu, salah seorang warganya, tapi bukannya dihukum malah dilindungi, nahh yang melindungi si orang jahat ini yang kemudian diketahui oleh si Buaya.

Trus, bunda? Yang lainnya gak tau?

Iya, jadi ada orang jahat, orang yang seharusnya dihukum malah dilindungi oleh beberapa pihak yang disebutin sama Buaya tadi...

Loh? Termasuk Buaya juga, bunda?

Iya, jadi ada Buaya lain yang juga disebut, ada Gajah, juga ada Lebah...

Lebah? Lebah kerjanya jadi apa, bunda? Aku suka madu... madu khan yang buat lebah ya, bunda?

Iya, madu yang manis.. Nah, tapi Lebah yang ini tugasnya mengumpulkan sedikit bagian hasil dari panen rakyat yang memang menjadi bagian untuk kerajaan. Jadi rakyat yang punya makanan, panen, juga harta yang banyaaaaak diwajibkan untuk memberikan sedikit bagiannya untuk kerajaan. Nah, bagian-bagian yang udah dikasih oleh rakyat ke kerajaan ini digunakan untuk seluruh kegiatan kerajaan, termasuk menggaji para staf kerajaan, membangun fasilitas umum, membiayai seluruh belanja kerajaan..

Fasilitas umum itu apa, bunda? Yang bikin siapa?

Fasilitas umum itu seperti jalanan, jembatan, pelabuhan, terminal, sekolah, rumah sakit, dan masih banyak lagi.. Yang bikin tentu aja kerajaan juga, tapi yang melaksanakan itu Sapi si pekerja umum, dia bersama sapi lainnya membuat jalanan, terminal, dan segala macam itu. Para sapi ini bertanggung jawab atas tersedianya fasilitas-fasilitas umum ini.

Oh? Bukannya Singa yang tanggung jawab, bunda? Jadi jalanan di depan rumah kita itu fasilitas umum ya? Aku boleh lewat situ khan, bunda?

Betul sekali, sayang, kamu boleh lewat kapan aja, khan ayah sama bunda bayar pajak, jadi kita berhak menikmatinya.

Pajak? Pajak itu apaan lagi, bunda?

Itu semacam panen bagian kerajaan tadi, gunanya sama, dipungut untuk membiayai negara. Hanya saja bentuknya uang, bukan panen seperti di kerajaan hutan.

Ohh... balik cerita tadiii, bundaa....

Oh ya, Singa bertanggung jawab untuk semuanya, tapi tanggung jawab secara teknisnya ada pada para Sapi. Bukan pada Lebah si pengumpul bagian panen kerajaan atau Macan si bendahara kerajaan. Lebah hanya bertanggung jawab atas pengumpulannya aja, dan Macan bertanggung jawab atas keluar-masuknya bagian panen yang dikumpulkan tadi. Kenapa? Karena rakyat mengumpulkannya langsung ke celengan kerajaan yang dipegang oleh Macan tadi.

Ahh, bundaaa... aku gak ngerti....

Hmm, gini, jadi Lebah bekerja untuk memberitahu rakyat untuk mengumpulkan sebagian kecil dari hasil panen mereka untuk kerajaan dan mencatat siapa saja yang sudah mengumpulkan dan berapa besarannya, kemudian rakyat mengumpulkannya langsung kepada Macan yang langsung dimasukkan ke dalam celengan. Nah, dari celengan ini nanti setiap tahunnya direncanain mau dibuat apa aja selama setahun itu, seperti yang bunda bilang tadi, mau dibuat bayar gaji staf kerajaan, bikin fasilitas umum, dan masih banyak lagi. Nahhh, setelah direncanain, trus dibagi-bagi deh ke Sapi buat dibikinin fasilitas-fasilitas umum tadi.. Begitu...

Oh, gitu.... Aku juga punya celengan. Hehe.. Setiap hari ku isi supaya penuh...

Bagus itu, kamu emang anak bunda yang paling hebat...

Trus yang jahat tadi apa?

Oh ya, kita balik lagi ya.. jadi khan ada rakyat yang punya banyaaaaaaaaaaak sekali harta, panennya juga melimpah, tapi dia gak mau mengumpulkan sebagian kecil dari hartanya itu untuk kerajaan, rakyat yang ini kebetulan seekor serigala. Serigala ini kemudian mencoba untuk menyuap seekor Lebah yang kebetulan bertugas untuk mengumpulkan bagian kerajaan dari si Serigala. Serigala merayu Lebah agar Serigala dibolehkan mengumpulkannya jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya. Dan sebagai imbalannya Lebah akan diberi sedikit bagian dari Serigala. Karena keimanannya yang tipis dan jumlah yang diberikan cukup banyak, akhirnya Lebah yang lemah tadi terkena rayuan Serigala, Lebah ini menerima tawaran dari Serigala.

Kok Lebahnya mau sih, bundaaa? Itu khan gak boleh ya, bunda?

Tentu aja gak boleh.. Nah kemudian masalah ini diketahui oleh seluruh rakyat. Walaupun hanya baru seekor Lebah itu saja yang bisa diketahui, sedangkan Gajah atau Buaya atau staf kerajaan lainnya belum diketahui lagi siapa saja yang terlibat. Akibatnya adalah seluruh rakyat marah mengetahui bahwa si Lebah yang satu tadi itu mempunyai banyak persediaan makanan di rumahnya hasil dari imbalan yang diberikan oleh si Serigala tadi.

Marah-marah semua, bunda? Ngamuk-ngamuk? Cakar-cakaran?

Iya, semuanya marah-marah. Beberapa yang mengerti bagaimana persoalannya pun marah, tapi tak sedikit yang tak paham ikutan memberi komentar dimana-mana, walaupun pada hakikatnya seluruh rakyat punya hak untuk berkomentar, tapi tentunya komentar yang berdasar pada ilmu dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan komentar asal yang hanya memperkeruh keadaan.

Memangnya mereka komentar apa, bunda?

Banyak sekali, sayang. Mereka jadi mengeneralisir seluruh Lebah lainnya yang sudah susah payah mengumpulkan sedikit panen dari rakyat untuk kerajaan agar dapat membiayai seluruh kegiataan kerajaan malah disamakan secara keseluruhan kalau Lebah lainnya juga sama dengan Lebah yang menerima imbalan dari Serigala tadi. Lebah lainnya dibilang sudah memakan panen yang sudah dikumpulkan rakyat untuk diri sendiri dan keluarganya. Padahal para Lebah sama sekali tak pernah menyentuh panen bagian kerajaan tersebut.

Oh iya yaaa, khan panennya tadi ada di celengannya macan ya, bundaaa...

Nah iya, kamu emang pinter, sayang... Sampai-sampai ada yang memprovokasi untuk gak lagi mengumpulkan bagian panen kerajaan, melakukan boikot-boikot yang sebenarnya malah membuat perekonomian kerajaan menjadi lumpuh karena tak ada lagi dana yang masuk untuk berbagai kegiatan kerajaan. Mereka malah mengikuti jejak si Serigala yang gak mau mengumpulkan bagian panen kerajaan tadi. Jadinya sama saja dengan si Serigala..

Loh kok gitu? Kok malah ikutan Serigala jahat? Seharusnya khan gak begitu ya, bunda?

Iya.. Seharusnya.. Para Lebah juga malah disalahkan dan dimintai pertanggungjawabannya terhadap fasilitas umum yang buruk dimana-mana, padahal itu bukan lah tanggung jawab para Lebah. Tapi rakyat tidak tahu, dan mungkin memang kurang informasi mengenai fungsi dan tanggung jawab berbagai staf kerajaan. Ditambah para Burung Beo yang suka menceritakan berbagai berita yang belum tentu benar dan sahih.

Burung Beo? Mereka jadi apa, bunda? Burung Beo khan lucu, pinter ngomong..

Burung Beo ini yang menyebarkan berita ke seluruh penjuru hutan. Jadi seluruh rakyat bisa tau berbagai macam berita. Tapi yah kadang Burung Beo berlebihan dengan kata-kata dalam beritanya hanya agar rakyat mau mendengarnya terus-terusan mengoceh. Walau begitu tak semua Burung Beo suka mengoceh tak jelas, banyak juga yang memberitakan hal yang benar juga membantu meluruskan hal-hal yang simpang siur dan belum jelas yang beredar di perbincangan rakyat kerajaan.

Haha9, temenku ada yang suka bicara gak bener, dia suka mengada-ada, bunda.. Jadi dia dijulukin si pembual...

Nah itu, kamu gak boleh ya seperti itu, sayang...

Iya, bunda. Berbohong itu khan dosa. Trus gimana ceritanya, bunda? Emangnya singa gak ngapa-ngapain?

Tentu aja Singa ambil tindakan. Sebagai seorang raja yang selalu harus bijaksana dalam memimpin kerajaannya, maka Singa segera memerintahkan kepada para Buaya untuk mencari Lebah, Gajah, juga Buaya lain yang memang sudah terlibat, dan tentunya juga Serigala agar ditangkap secepat mungkin.

Ketangkep gak, bunda? Aku jadi gemes sama Serigala, Serigala jahat... curang, gak mau ngumpulin panennya. Padahal rakyat yang lain mau ngumpulin panennya... huh.. gemes juga sama Lebah, Gajah, Buaya yang jahat juga...

Ketangkep dong. Walaupun pada awalnya susah buat menangkap mereka, tapi berkat dukungan seluruh staf kerajaan dan rakyatnya, akhirnya mereka berhasil ditangkap. Kemudian para penjahat ini diadili di depan seluruh rakyatnya, tanpa terkecuali. Panen yang memang ada di rumah Lebah, Gajah, dan Buaya tadi segera diambil dan diamankan oleh staf kerajaan.

Waaaah, hebat...

Iya, hebat, raja, staf kerajaan, dan seluruh rakyat bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan ini. Para Buaya yang bekerja tanpa lelah untuk mencari para penjahat itu, para Gajah yang menghakimi dengan adil, juga para Tikus yang mewakili rakyat dengan arif. Tidak saling tuduh dan saling hujat, apalagi mencaci maki pihak lainnya yang bahkan tidak melakukan hal yang buruk dan sudah menjalankan pekerjaannya dengan baik. Karena seharusnya memang kita berpikir jernih dan tenang dalam menghadapi suatu permasalahan. Tidak gegabah, tidak terprovokasi, dan tidak men-generalisir sesuatu hanya karena bagian dari sesuatu itu melakukan keburukan. Karena masih banyaaaaaak sekali Serigala, Lebah, Gajah, dan Buaya yang baik dan gak jahat.

Men-generalisir itu apa sih, bunda? Bunda nihhh... aku gak paham bunda ngomong apa.... Aku juga gak ngerti provokasi....

Hmm, begini, seperti temanmu yang tadi mengejek-ngejek kamu di sekolah, kamu jadi sedih, kamu jadi berpikir kalau dia jahat. Tapi kamu khan gak boleh mengatakan kalau temanmu yang lain juga jahat seperti dia, apalagi sampai kamu gak mau sekolah dan bilang kalau sekolahmu itu isinya orang jahat semua hanya karena seorang atau beberapa orang temanmu berbuat jahat.

Tapi khan dia emang jahat. Besok kalau aku masuk sekolah aku bakal diejek-ejek lagi. Aku gak mau, bunda....

Lohh, kamu khan gak salah, kenapa malah gak mau sekolah? Kalo mereka mengejek-ejek dan menjelek-jelekkan kamu, biarin aja, anggap saja hanya burung beo yang pengen diperhatiin sama kamu. Yang penting khan kamu gak buat salah apa-apa, khan?

Gak, bunda.. Aku gak nakal kok....

Pasti dong... Khan anak bunda,... Jadi, besok masuk sekolah khan?

Hu um...

Sekarang bobo ya?

Bunda....

Ya?

Aku kangen ayah.....

Bunda juga kangen ayah....

Ayah kapan pulang, bunda?

Hmmm, nanti ayah pulang kok...

Hari ulang tahunku ayah pulang?

Insya Allah, bulan depan ulang tahunmu ya, mau kado apa, sayang?

Aku gak mau kado, aku cuma mau ayah pulang...

Sabar ya, sayang.... Nanti ayah pulang. Ayah khan harus kerja, dan harus nabung supaya bisa pulang...

Kenapa kita gak tinggal bareng aja, bunda?

Khan bunda harus kerja juga disini?

Kenapa ayah gak kerja disini aja, bunda? Kenapa malah di Mau... Mau... Mau apa, bunda?

Maumere...

Iya, Maumere... Itu jauh ya, bunda, dari Aceh sini?

Jauh, jauh sekali.. Tapi kamu khan sayang ayah? Jadi ayah selalu dekat sama kamu, di sini, di dalam hati kamu... Kamu berdoa aja ya supaya ayah cepat pindah tugas ke sini, bareng sama kita.

Iya, bunda. Aku sayang bunda... sayang ayah juga...

Bunda juga sayang kamu.. bobo yaaa....



Baca selengkapnya......

Rabu, 17 Juni 2009

Sarana Komunikasi

Beberapa minggu yang lalu, selaku salah satu pengurus RT, saya turut mendengarkan curhat seorang warga (demi kebaikan bersama, nama warga dimaksud dirahasiakan - red). Setelah mendalami permasalahannya, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya permasalahan tersebut bermula dari buntunya arus komunikasi antara warga dimaksud dengan warga lainnya. Padahal, kita hidup dijaman internet, dimana hanya dengan satu klik saja maka kita bisa melihat "dunia".

Menghadapi kejadian tersebut, kemudian saya dan ketua RT mencoba mendengarkan dan berdialog dengan warga dimaksud melalui fasilitas email. Alhamdulillah, dari saling berkirim email tersebut akhirnya tercipta persamaan persepsi, sehingga ganjalan di hati yang semula membuat kekurang-nyamanan bersama dapat diminimalisir.

Belajar dari pengalaman tersebut, secara informal saya mengusulkan kepada ketua RT agar dibuat sebuah blog yang dapat dijadikan sarana berkomunikasi antar warga RT, yang antara lain memuat hasil rapat di tingkat RT. Dan Alhamdulillah, blog sederhana tersebut sekarang telah lahir, bernama Komunitas RT 02 RW XII. Semoga dengan kelahirannya, komunikasi antar warga RT 02 dapat ditingkatkan. Namun demikian, sepanjang tidak ada hal yang sangat penting dan mendesak, diharapkan segenap warga berusaha untuk menghadiri setiap pertemuan yang telah diagendakan bersama.

Baca selengkapnya......

Sabtu, 02 Mei 2009

Esuk dhele sore tempe?

Menyimak tingkah laku politikus dalam mensikapi hasil pileg dan rencana pilpres akhir-akhir ini, saya kadang bertanya-tanya, dunia politik itu rumit apa sengaja dibuat rumit ya? Masing-masing kubu / blok terlihat sibuk mencari celah-celah sempit yang akan mereka jadikan jalan lapang menuju kursi kekuasaan.

Sebelum pelaksanaan pileg 9 April yang lalu, rakyat Indonesia dipusingkan dengan terlalu banyaknya pilihan yang disodorkan pada mereka. Masing-masing caleg dan parpol berlomba-lomba menawarkan diri dan meyakinkan kepada khalayak, bahwa hanya merekalah satu-satunya caleg/parpol yang layak dan wajib dipilih kalau rakyat menghendaki kemakmuran dan kesejahteraan di masa depan. Namun setelah hasil perhitungan sementara diumumkan oleh berbagai lembaga survey nasional, parpol-parpol berusaha saling bekerja sama dalam beberapa golongan /blok (istilah balitanya : koalisi) untuk mewujudkan satu cita-cita jangka pendek, calon presiden dari golongan merekalah yang harus menang di pilpres nanti. Setelah terbentuk blok-blok tersebut, mereka berusaha meyakinkan seyakin-yakinnya, bahwa hanya capres dari blok merekalah yang nantinya dapat membawa perbaikan di negeri ini.

Bagaimana mungkin, hanya dalam hitungan bulan, hari, bahkan jam, parpol yang dulunya nampak beda, istimewa, setelah detik-detik menjelang pencalonan presiden mereka menyatakan adanya persamaan platform, visi misi, dan tujuan? Apakah demi meraih sebuah kursi kekuasaan, mereka rela memotong urat malunya, sehingga bebas berpandangan asal cita-citanya tercapai? Orang jawa bilang : esuk dhele sore tempe (pagi kedelai, sore dah berubah jadi tempe).
Gak konsisten !!!
Oportunis !!!
Menyebalkan !!!


Dengan tulisan ini bukan bearti saya tidak mendukung berlangsungnya pilpres. Namun semata-mata mencurahkan harapan saya agar parpol-parpol yang kebetulan belum mendapatkan suara banyak hendaknya konsisten dengan platfom, program kerja, visi misi yang telah ditetapkan dahulu saja. Dengan konsistensi yang tinggi untuk memperjuangkan nasib rakyat banyak (berani diluar pemerintahan), meskipun sekarang kalah bisa saja 5 tahun mendatang mereka menjadi jawara. So..., hindari "esuk dhele sore tempe", apalagi sampai "bengi tempe bosok" hanya demi meraih kursi pemerintahan. Ingat, jabatan adalah amanah, yang akan dipertanggung jawabkan kelak di hari pembalasan.

Baca selengkapnya......

Jumat, 27 Maret 2009

Caleg oh caleg.......

Tanggal 9 April 2009, dimana kredibilitas seorang caleg (sedikit-banyak) akan dipertaruhkan, tinggal beberapa hari lagi. Segala daya dan upaya dikerahkan para caleg untuk dapat merebut hati pemilih. Dari yang cuma menebar janji-janji doank, membagi sembako, membagi kaos, ataupun bahkan membagi-bagi uang baik secara terang-terangan ataupun secara gelap-gelapan. Intinya satu, mereka berusaha merebut hati kita, agar mau mencontreng namanya di "pesta demokrasi" yang akan segera kita gelar.

Dalam hati kecil, ingin kucontreng-contreng wajah para caleg yang dengan tanpa malu-malu telah berusaha membeli suara itu dengan pena yang tak dapat dihapus seumur hidupnya. Biar wajah mereka coreng-moreng sekalian. Bayangkan, hanya dengan modal 5 juta saja, "konon kabarnya" seorang caleg sudah berani berharap banyak untuk dapat meraih kemenangan dalam satu RW yang terdiri dari 2 TPS. Sungguh terlalu ! Sudah sebegitu murahkah arti "suara rakyat" di negeri ini? Dua puluh ribu rupiah untuk 5 tahun??? Belum menjadi wakil rakyat saja telah melakukan upaya pembodohan.

Bagi kita yang berpenghasilan cukup/lebih, diberi 1 juta per-suara-pun, barangkali pada hari H nya nanti bisa tetap milih seorang caleg sesuai hati nurani, mengingat penghasilan rutin kita jauh lebih besar dibanding "sogokan" caleg yang cuma se-upil tadi. Tetapi, bagi Saudara-saudara kita yang kebetulan berpenghasilan pas-pasan / kurang, kemungkinan akan benar-benar menjual suaranya dengan harga murah. Bukan karena mereka benar-benar bodoh, tapi karena telah dibodohi / dimanfaatkan para caleg yang didukung para "tokoh masyarakat" yang yang menjembatani terjadinya hubungan antara warga dan caleg tersebut. Warga kurang mampu bisa saja menganggap "pemberian" caleg itu sudah sepantasnya dibalas dengan pemberian suara. Bagi mereka, toh diberikan kepada siapapun suara itu, tidak akan mempengaruhi kehidupannya. "Sama-sama tidak berpengaruh bagi kehidupannya, tidak ada salahnya diberikan pada orang yang telah nyata-nyata memberikan bantuan, meskipun cuma 5 juta buat warga sekampung", dalih tokoh masyarakat yang bertindak sebagai broker.

Mumpung pemilu masih beberapa hari lagi, mari kita renungkan kembali bersama-sama. Apakah kita akan "menggadaikan" masa depan / nasib seluruh anak bangsa kepada caleg yang nyata-nyata telah berusaha melakukan jual-beli suara itu? Kalau iya, kasihan KPK. Beban berat menanti mereka, karena harus mengejar-ngejar koruptor yang akan bermunculan di kelak kemudian hari. Memberi kesempatan caleg yang tanpa malu-malu bersedia membeli suara, sama saja kita siap berhutang pada rentenir / lintah darat !

Alangkah bijaknya jika kita berprinsip : Sama-sama tidak mengenal caleg, jangan sampai memilih caleg yang getol membeli suara. Insya Allah, bangsa kita tidak hanya menjadi bangsa yang berkembang, tapi menjadi bangsa yang maju, yang dihargai bangsa-bangsa lain di seluruh penjuru dunia. Dengan perlawanan terhadap praktek jual-beli suara inilah, hidup kita tak akan tergadaikan. Kalau masih ada caleg yang amanah di sekitar kita, mengapa harus memilih caleg model rentenir / lintah darat?

Merdeka !!!!!

Baca selengkapnya......

Selasa, 10 Februari 2009

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009

Hampir tak terasa, ajang pesta demokrasi lima tahunan segera menghampiri kita. Alangkah indahnya jika kita secara bersama-sama dapat menjadikan pesta kali ini bernilai lain dari pesta-pesta yang pernah kita jalani bersama selama ini. Pemilu 2009 ini hendaknya dapat kita jadikan sebagai tonggak sejarah baru bangsa kita, dimana semua elemen bangsa melaksanakan apa yang menjadi tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab kepada masa depan bangsa Indonesia !

Jika dalam pesta-pesta yang diselenggarakan pada kesempatan sebelumnya kita jumpai sejumlah kekurangan, hendaknya hal tersebut dapat kita jadikan pelajaran di kesempatan yang akan datang. Mulai sekarang, kita bersama-sama menyambut masa depan bangsa kita, agar berkehidupan demokrasi yang sehat, terhormat dan bermartabat.

Bagaimana kita dapat mewujudkan cita-cita mulia tersebut?
Pertama, bagi para caleg yang telah tercantum dalam Daftar Calon Tetap hendaknya tidak jemu-jemu untuk meluruskan kembali niat mulianya. Sudah seharusnya, Saudara mencalonkan diri sebagai Caleg semata-mata hanya ingin menjadi seseorang yang rela mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk memperjuangkan aspirasi orang-orang yang Saudara wakili. Ingat, Saudara hanyalah seorang calon wakil. Jadi jika dalam pesta demokrasi nanti Saudara ternyata tidak dipercaya untuk ditunjuk sebagai wakil, janganlah memaksakan diri dengan menghalalkan segala macam cara agar Saudara dapat ditunjuk menjadi wakil. Ditunjuk sebagai wakil adalah sebuah amanah. Amanah tidak dapat dibeli, dipaksakan dan dimanipulasi. Ia akan hadir menghampiri Saudara dengan penuh keikhlasan. Dan jika sewaktu-waktu Saudara tidak dipercaya lagi untuk mengemban amanah tersebut, bersegeralah untuk mengembalikannya kepada yang memberikan. Janganlah sekali-kali mempertahankan segala sesuatu yang bukan menjadi hak Saudara.

Kedua, bagi para pemilih. Pilihlah calon wakil yang benar-benar Saudara yakini, bahwa dia akan mendengar, memahami, dan melaksanakan aspirasi Saudara. Lihatlah dengan seksama, dengan hati nurani Saudara, apakah calon yang akan Saudara pilih bukan merupakan seorang penjilat yang hanya akan menimbulkan kericuhan, kesengsaraan, dan penderitaan yang berkepanjangan bagi bangsa ini dikemudian hari.

Ketiga, bagi seluruh anggota panitia pesta demokrasi. Kedudukan Saudara saat ini sangatlah penting, layaknya "wakil sementara" bagi seluruh elemen bangsa ini. Sebab, jika Saudara tidak mampu untuk berbuatlah adil, sebenarnya Saudara telah melakukan perbuatan yang dholim. Dholim kepada seluruh warga negara beserta seluruh anak keturunannya. Jika pesta demokrasi kali ini dilaksanakan dengan baik bahkan mampu menghasilkan figur-figur wakil yang baik, niscaya seluruh warga negara akan senang hati jika kelak diminta menghadiri kembali pesta berikutnya. Begitu juga sebaliknya, jika dalam pesta kali ini diwarnai berbagai kecurangan dan kericuhan, dan bahkan hanya menghasilkan wakil yang gemar merampok harta negara, senang berbuat jahat, berperilaku tidak senonoh, dan lain sebagainya, niscaya kelak di kemudian hari tak ada lagi warga yang bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk menghadiri pesta berikutnya.

Keempat, Pemilu pada dasarnya memiliki tujuan baik. Tujuan baik hendaknya dicapai dengan usaha-usaha yang baik pula, dengan penuh kejujuran, ketulusan, keadilan, dan kedamaian. Mari kita hindari segala bentuk kecurangan, baik kecurangan kecil maupun besar, baik kecurangan pribadi maupun kecurangan terorganisir. Karena berbagai macam kecurangan tersebut sebenarnya awal terjadinya berbagai penyimpangan. Semoga kedamaian senantiasa menyertai jalannya pesta demokrasi kali ini. Jayalah Indonesia-ku, Indonseia kita bersama !!!

Baca selengkapnya......

Rabu, 14 Januari 2009

Ombak di tepi kantor

Sudah beberapa hari ini hujan mengguyur kota Semarang, bahkan hampir tanpa jeda. Sebelum tidur hujan. Bangun tidur masih terdengar suara rintik hujan. E...., baru saja nyampai di kantor hujan lagi. Hi.... dingin...... Banjir......

Kalau hujan turun secara terus-menerus maka hampir dapat dipastikan halaman kantorku digenangi air. Jadi "kantor basah" dech.... Enaknya punya kantor yang kebanjiran salah satunya adalah bisa menikmati ombak di tepi kantor. Bagi yg kantornya gak ada, bisa ikut nikmati nich....

Trus nggak enaknya, antara lain :
- Tambah anggaran ongkos naik becak buat nyebrang.
- Parkir kendaraan di tempat agak jauh (nambah ongkos parkir & ongkos becak lagi....).
- Warung makan disekitar kantor pada tutup. Hik hik hik laper...........

Biar gak banjir gimana ya? Gampang saja. Ubah syair lagu Jangkrik Genggong, biar gak ada lagi "Semarang kaline banjir" (hehehe... bercanda lho...). Jawaban yang agak serius antara lain :
- Pemerintah harus tegas !
Kalau pembuatan rumah liar di pinggir sungai tidak diperbolehkan, ya jangan nunggu rumah-rumah liar itu tumbuh menjamur. Tentunya disisi lain pemerintah perlu menyediakan rumah susun sederhana sebagai alternatif bagi warga kurang mampu.
- Program penanganan banjir hendaknya jangan hanya sekedar merelokasi banjir.
- Diharapkan kesadaran segenap warga dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Sebenarnya air itu khan cuma butuh tempat yang lebih rendah sebagai tempat peristirahatan terakhir. So, janganlah kita menghalang-halanginya. Kalau dia jengkel bisa-bisa mengamuk ...... Jangan sampai peristiwa banjir bandang menghampiri kita lagi hanya karena kita kurang peduli pada lingkungan.

Baca selengkapnya......

Kamis, 08 Januari 2009

Pemilu 2009

Dulu...., saat bertugas di Ambon saya mempunyai seorang atasan yang sangat bersahaja. Namanya singkat banget : Parno. Beliau itu sederhanaaaaaaaaaaaaaaa banget. Dirumah dinasnya, perabot yang menonjol hanyalah : Kasur busa, TV dan ricecooker. Padahal jabatan beliau saat itu Kepala Bidang, eselon III.

Beliau memperlakukan anak buah sebagai teman. Teman belajar, teman bermain, dan teman berbagi suka (belum pernah membagi duka - red). Beliau memperlakukan atasan dengan penuh hormat, namun tidak dengan menjilat. Pokoknya saya kagu......m banget pada beliau. Satu hal yang selalu saya ingat dari nasehat beliau adalah : Kita "berbuat sesuatu" ataupun "tidak berbuat sesuatu" harus ada alasannya, ada dasarnya, bukan cuma ikut arus.

Tahun 2009 telah menghampiri kita. Pemilu 2009 mau tidak mau, suka tidak suka, akan menyapa kita. Sebagai Warga Negara Indonesia, sudah selayaknya kita memanfaatkan hak pilih kita dengan penuh tanggung jawab. Ada baiknya kita terapkan bersama nasehat mantan atasan saya dulu itu, sehingga : kita "milih" ataupun "tidak milih" harus ada alasannya, kita "milih si A" ataupun "tidak milih si A" harus ada alasannya pula. Alasan itu harus kita pertanggung jawabkan.
Jadi, kalau ada hal yang kurang baik di kemudian hari karena kita "tidak memilih" ataupun "memilih orang yang salah", kita juga harus berani menyalahkan diri kita sendiri. Bagaimanapun juga, kita berperan dalam kejadian tersebut. Untuk itu, mumpung masih ada waktu, ada baiknya kita mulai mencoba mengenal caleg di sekitar kita masing-masing. Setelah itu, "Mo milih apa tidak, mo milih si A atau tidak milih si A", terserah !

Bagi temen-temen para caleg...., luruskan niat Anda. Bukankah jadi caleg ataupun tidak juga ada alasannya? Alasan temen-temen akan dimintai pertanggung jawaban kelak di hari pembalasan. Semangat !!!!

Baca selengkapnya......

Rabu, 17 Desember 2008

Sampah di sekitar kita

Dapat dipastikan, hampir setiap hari kita membuang sampah. Dulu, sewaktu saya masih kecil dan belum banyak menggunakan plastik, kita tidak begitu dipusingkan oleh sampah. Cukup dengan menggali tanah di kebun maka setiap hari kita dapat membuang sampah dengan ringan. Sampah-sampah tersebut lama-kelamaan justru menyuburkan tanaman di kebun kita.

Tapi sekarang, dimana plastik telah menyerbu kita, ditambah terbatasnya lahan di sekitar kita yang layak untuk dijadikan tempat pembuangan sampah, membuang sampah seakan telah menjadi beban tersendiri. Menurut Kompas, tahun 2006 saja sampah yang dihasilkan dari aktivitas warga Kota Semarang sudah mencapai lebih dari 4.000 meter kubik / hari. Lalu berapa produksi sampah saat ini di Semarang? Trus di Indonesia? Gak kebayang lagi dech....

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab untuk menangani sampah di sekitar kita? Pemerintah kah? Jauh..................... Untuk menyediakan box truk sampah yang mencukupi kebutuhan saja masih susah, apalagi harus menyediakan tempat pengolahan sampah yang dilengkapi sarana & prasarana yang memadai.
Trus gimana donk...

Pemerintah memang perlu kita tuntut untuk meningkatkan tempat, sarana dan prasarana pembuangan/pengolahan sampah. Tapi alangkah baiknya kalau kita semua juga mau berperan dalam mengelola sampah di sekitar kita. Yach dari hal-hal yang nampaknya kecil dulu lach. Misalnya kalau kita belanja di pasar, jangan tiap item belanjaan dibungkus plastik sendiri-sendiri. Cukup pakai satu plastik besar yang bisa dipakai ulang. Trus kalau buang sampah, sedapat mungkin dipisahkan antara yang dapat dimanfaatkan para pemulung dengan yang tidak. Dan yang tak kalah penting, jangan membuang sampah di sungai, dijurang pinggir jalan, ataupun di kebun tetangga.

Baca selengkapnya......

Selasa, 16 Desember 2008

Kritik dan Pujian

Kritik
Kadang menakutkan
Tak jarang menyakitkan
Bisa juga menyembuhkan
Dari kesombongan dan kepuasan
Tergantung bagaimana kita menyikapinya
Kritik
Mudah untuk memberikannya
Namun mengapa kita ogah mengambil hikmah dibaliknya

Pujian
Membuat bibir tersungging
Hati mengembang
Jiwa melayang
Mata tegak memandang
Kadang sampai mabuk kepayang
Tergantung bagaimana kita memaknainya
Pujian
Senang kalau mendapatkannya
Namun mengapa sering lupa menyebarkannya
Pada mereka yang membutuhkan

Baca selengkapnya......