Baca selengkapnya......
Jumat, 23 Januari 2009
Pergi keluar kota
Baca selengkapnya......
Jumat, 16 Januari 2009
Menemani Anak Bermain
Semalam..., dikala cuaca begitu bersahabat, anakku mengajak bermain di halaman rumah. (Aku bersyukur, meski hidup di perumahan kecil, kami masih mempunyai halaman yang cukup buat bermain anakku). Menemani anak bermain sebenarnya modalnya cuma perlu sedikit kesabaran. Sabar menunggui anak yang "cuma" menerbangkan potongan kertas kecil. Sabar menunggui anak yang sibuk melubangi daun dengan batu. Sabar menunggui anak yang asyik menimang-nimang daun, dan seterusnya sambil sesekali memberi komentar agar anak merasa diperhatikan. Kalau kita cuek, anak pasti kurang nyaman dalam menikmati permainannya.
Senin, 15 Desember 2008
Ngrembel lagi... Ngrembel lagi...
Sesampai di sana, situasi masih lumayan sepi. Kami langsung ke arena permainan. Aliya nyebur di kolam renang. Tapi baru sebentar, kulihat badannya menggigil kedinginan. Langsung aja kuajak naik, ganti pakaian, dan mencari permainan lainnya.
Pertama-tama istriku membeli tiket menembak 2 buah, 1 tiket flying fox, dan 1 tiket kuda tunggang. Untuk tiket menembak, 1 untukku dan 1 lagi untuk istriku. Satu tiket berisi 3 peluru. Dari 3 peluruku, 1 tepat mengenai sasaran, 2 lainnya mendekati sasaran. Sedangkan dari 3 peluru istriku, 2 menjauhi sasaran, dan 1 mendekati sasaran. Dari 1 peluru yang mengenai sasaran, aku memperoleh 1 tiket gratis flying fox.
Setelah menembak, aku dan istriku naik flyingfox. Sedang anakku masih takut dan sudah cukup senang melihat kami naik flyingfox. Berikutnya kami menuju tempat titian, yang gratis. Lagi-lagi anakku masih takut untuk mencoba, dan cukup senang melihat kami meniti tali berjaring itu. Kemudian anakku main ayunan, jungkat-jungkit, prosotan, dan masuk terowongan panjang yang dibuat seperti seekor ular raksasa.
Setelah cukup puas bermain, kami pesen makan. Kami memesan tahu goreng, rujak, ikan bakar, dan sup jagung, serta minuman. Satu persatu pesanan datang dan langsung kami nikmati. Hmmmm mak nyus.... rasanya. Yach..., memang Ngrembel Asri adalah tempat alternatif yang cocok buat mengisi liburan kami.
Senin, 24 November 2008
Jalan pagi
Istriku sering mengajak anakku jalan pagi di sekitar rumahku. Kondisi jalan yang naik turun merupakan sarana yang tepat buat menjaga kebugaran badan. Kadang-kadang anakku yang mengajak duluan.
Tapi anakku maunya kalau jalan pagi sebelum banyak orang lewat, sehingga tidak dilihat banyak orang. Pernah suatu hari, waktu ngajak jalan-jalan dan dituruti oleh istriku, tiba-tiba ia memarahin istriku. "Ibu sich, diajak dari tadi gak berangkat-berangkat. jadinya udah ada banyak bapak-bapak tuch... Uh....", gitu katanya. Padahal hari itu, begitu anakku bangun dan mengajak jalan, istriku langsung menurutinya. Setelah dibujuk-bujuk, diberitahu bahwa belum banyak bapak-bapak di jalan, anakku baru hilang ngambeknya.
Berikut ini foto anakku waktu jalan pagi di Klaten, kampung ayahnya.
Kamis, 20 November 2008
Foto rumahku
Memenuhi permintaan beberapa sahabat, baik secara langsung maupun via email, berikut ini saya tampilkan foto : rumah, kolam ikan, dan tempat nongkrong depan rumah. Jreng... jreng... jreng.......
Kamis, 13 November 2008
Pembantu oh pembantu......
Semarang adalah kota yang kupilih menjadi homebase-ku. Aku lahir dan besar di klaten. Makanya aku sering menyebut diriku coklat, cowok klaten. Istriku lahir di Wonogiri namun sejak usia 2 tahun sampai anak kami lahir tinggal di Jakarta.
Aku tinggal di Semarang sejak 2 Agustus 1999, sejak pindah kerja dari Ambon Manise yg sedang dilanda kerusuhan. Beberapa tempat kost telah aku singgahi, antara lain di Jl. Kelud, Jl. Mahesa, Jl. Menoreh. Setelah aku menikah, aku tinggal rumah dinas di daerah Ngesrep. Selang 2 tahun, aku, istri, dan anakku menempati rumah sendiri di Perum Taman Puri Sartika, yang elok dan asri. Karena saya dan istri harus bekerja, anak kami diasuh oleh pembantu.
Yang pertama, panggil saja Bu dhe. Masih ada hubungan kerabat jauh sama ortu di klaten. Karena masih ada hubungan kerabat tsb, terjadi kesungkanan-kesungkanan yg mengakibatkan Bu dhe pulang.
Yang kedua, panggil juga Bu dhe. Orang grobogan. Sebenarnya kami cocok. Namun ditengah perjalanan bu dhe sakit dan tidak dapat mengasuh anak kami lagi.
Yang ketiga si A, anak remaja dari grobogan.
Yang keempat si B, juga anak remaja dari grobogan.
Yang kelima si C, anak remaja dari temanggung.
Yang keenam si D, anak remaja dari magelang.
Yang ketujuh si E, ibu muda dari gubug, grobogan.
Yang sekarang ini, yang kedelapan, Bu dhe dari Ambarawa.
Sampai anak kami berusia 5 tahun, kami telah berganti pembantu 8 kali. Dari si A s.d. si E, karena mereka masih muda, selalu saja ada "laporan" dari tetangga tentang cara mengasuh anak yg kurang bagus. Rata-rata sih mereka sibuk pacaran, baik dengan orang sekitar rumah maupun orang jauh melalui telpon. Maklum, usia mereka seharusnya masih cocok untuk bersenang-senang, belum waktunya bekerja. Ada lagi, dengan pembantu yang masih remaja, saya dan istri harus bangun pagi-pagi, masak ! Masakin buat anak dan pembantu kami, karena mereka tidak bersedia masak. Kalau ndak sempat masak, maka harus menyempatkan diri membeli makanan matang. Tapi bagaimanapun juga, kami membutuhkan mereka. Kami hanya bisa berdoa, semoga pembantu kami diberi kesabaran dalam ngasuh anak. Kami selalu memohon kepada Allah agar anak kami dijaga-Nya, sehingga pembantu kami tidak memperlakukan anak kami dgn tidak semestinya. Saya dan istri selalu berusaha ngalah kalau berhadapan dengan pembantu. Paling-paling menegur dengan hati-hati kalau ada hal yang kami rasa tidak pas. Sebab kalau kami menegur dengan keras atau bahkan marah, kami takut anak kami yg masih kecil menjadi ajang dendam.
Semoga saja pembantu kami yang sekarang bisa bertahan lama.................
Anakku dah TK Besar
Seperti biasa, kalau aku sedang nongkrong bareng bapak-bapak di deket pos satpam depan rumahku, suara itu selalu menghampiriku. Mau gak mau aku harus pulang, meninggalkan pembicaraan serius atau sekedar obrolan santai dengan tetangga rumah.
Dulu, ketika baru menempati rumah ini, hampir tiap malam aku dan istri dibuat stres. Saat jam 11 malem adalah saat-saat yang mendebarkan. Jika jam itu anakku yg berumur 2tahun ndak nangis, berarti tidur kami akan nyenyak sampai pagi. Tapi kalau nangis, kadang histeris, dipastikan pagi-pagi kami harus menahan kantuk.
Kalau dah nangis, kami hanya bisa pasrah dan berdoa. Kami hanya nungguin dengan kesabaran. Setelah setengah jam atau sejam, anak kami akan pipis (ngompol) dan rewelnya akan pergi dengan sendirinya. Untungnya hal itu hanya berlangsung beberapa bulan. Kami membeli rumah akhir 2004, dan kami huni sejak awal september 2005. Rumah tsb sebelumnya kosong, ndak pernah dihuni oleh pemilik lama. Bisa jadi rumah tsb dimanfaatkan "pihak lain" yg ndak kelihatan mata manusia biasa. Sebelum mencapai usia 3 tahun merupakan masa-masa penuh kekhawatiran. Anak masih sering diampiri si pilek dan si batuk. Padahal kalau anak dah pilek, tidur malam kami jadi gak maximal. Padahal lagi, pagi-pagi kami harus siap-siap bekerja. Sekarang putri kami dah TK besar. Dah sering protes kalau kami pulang agak terlambat, lupa gak bawa oleh-oleh, atau ndak diajak jalan-jalan di hari minggu. Meskipun capek, kalau udah melihat anak tersenyum, rasanya jadi ringan....... Baca selengkapnya......
Rumahku, Istanaku
Mungkin kalau bukan warga perumahan ini, ndak akan tau logo ini. Logo ini cuma ada di gerbang pintu masuk dan di pos satpam perumahan. Perumahan Taman Puri Sartika. Sebuah nama yang cukup cantik. Namun sayangnya tidak semua warga Semarang akrab dengan namanya (lain halnya jika orang nanya Puri Anjasmoro, hampir semua mengenalnya). Sopir taksi aja, selain kosti lho, ada yg ndak tau. Namun demikian, saya cukup membanggakan perumahan yang saya huni bersama istri dan sikecil buah hati kami.
Yang menyenangkan di perumahan ini a.l. :
- jarak dengan pusat kota relatif pendek
- udaranya relatif segar, diperbukitan bo'....
- nyamuk hampir ndak ada. Hmmm pulesnya tidur kami........
- bisa mendidik anak hidup lebih hemat (hehehe jarang orang jualan lewat sich).
Maka, bila anda sedang mencari-cari rumah buat tempat tinggal (bukan investasi), cobalah mampir ke perumahan kami. Rutenya relatif mudah dijangkau koq. Dari sampangan, lewat jembatan besi, naik aja menuju arah kampus Unes. Dari jembatan besi kira-kira 1,5 km, lihat ke arah kanan jalan (setelah toko keramik) maka ada gerbang perumahan dengan logo tsb. langsung masuk saja, dan biasanya disambut beberapa ekor sapi yang putih-putih & mulus disekitar lapangan. Sekitar 500 meter dari gerbang baru ditemukan rumah. Puter-puter saja, bebas koq. Ndak harus ninggal KTP pada pak satpam.
Pertama tinggal disana, kami stres. Air susah. Mo keluar susah. Mo jajan susah. Susah ini... Susah itu... Dst. Tapi sekarang Alhamdulillah semua permasalahan satu per satu mulai dapat diatasi. Air berlimpah, sudah bisa bikin kolam ikan bo'.....
Sampai jumpa.......





















