Aja lali marang kabecikaning liyan *** Aja sira degsura, ngaku luwih pinter tinimbang sejene *** Aja rumangsa bener dhewe, jalaran ing donya iki ora ana sing bener dhewe *** Aja wedi kangelan, jalaran urip aneng donya iku pancen angel *** Aja gawe seriking ati liyan *** Aja golek mungsuh *** Aja sira mulang gething marang liyan jalaran iku bakal nandur cecongkahan kang ora ana wusanane *** Aja ngumbar hawa napsu, mundhak sengsara uripmu *** Aja melik darbeking liyan *** Aja cidra ing janji *** Aja dumeh *** Aja kumalungkung *** Aja kumingsun *** Aja gumedhe *** Aja ngrusak pager ayu *** Aja dahwen *** Aja drengki *** Aja kuminter *** Aja ambeg siya *** Aja ngece wong ora duwe *** Aja kegedhen rumangsa *** Aja adigang-adigung-adiguna *** Aja nggege mangsa *** Aja nampik rejeki *** Aja panasten *** Aja seneng gawe gendra, jalaran gawe gendra iku sipating demit *** Aja seneng yen dialem, aja sengit yen cinacad *** Aja lali piwulang becik *** Aja aweh kasekten marang durjana *** Aja lali marang kahanan kang marakake perang, jalaran yen sira tansah lali bakal tansah ana perang bae *** Aja selingkuh *** Aja seneng madon *** Aja seneng main *** Aja seneng maido *** Aja seneng madad *** Aja seneng nyaru *** Aja bosenan/jelehan *** Aja nggebyah uyah padha asine *** Aja dadi wong pinter keblinger *** Aja mung tuwa tuwas *** Aja golek menange dhewe *** Aja gampang kelu ing swara *** Aja taberi utangan *** Aja seneng royal *** Aja pisan nacad liyan, ora ana wong kang ora cacad *** Aja wedi marang penggawe becik, lan wani marang penggawe ala *** Aja seneng nggampangake

Rabu, 17 Juni 2009

Sarana Komunikasi

Beberapa minggu yang lalu, selaku salah satu pengurus RT, saya turut mendengarkan curhat seorang warga (demi kebaikan bersama, nama warga dimaksud dirahasiakan - red). Setelah mendalami permasalahannya, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya permasalahan tersebut bermula dari buntunya arus komunikasi antara warga dimaksud dengan warga lainnya. Padahal, kita hidup dijaman internet, dimana hanya dengan satu klik saja maka kita bisa melihat "dunia".

Menghadapi kejadian tersebut, kemudian saya dan ketua RT mencoba mendengarkan dan berdialog dengan warga dimaksud melalui fasilitas email. Alhamdulillah, dari saling berkirim email tersebut akhirnya tercipta persamaan persepsi, sehingga ganjalan di hati yang semula membuat kekurang-nyamanan bersama dapat diminimalisir.

Belajar dari pengalaman tersebut, secara informal saya mengusulkan kepada ketua RT agar dibuat sebuah blog yang dapat dijadikan sarana berkomunikasi antar warga RT, yang antara lain memuat hasil rapat di tingkat RT. Dan Alhamdulillah, blog sederhana tersebut sekarang telah lahir, bernama Komunitas RT 02 RW XII. Semoga dengan kelahirannya, komunikasi antar warga RT 02 dapat ditingkatkan. Namun demikian, sepanjang tidak ada hal yang sangat penting dan mendesak, diharapkan segenap warga berusaha untuk menghadiri setiap pertemuan yang telah diagendakan bersama.

Baca selengkapnya......

Sabtu, 23 Mei 2009

Hercules

Mendengar terjadinya musibah jatuhnya pesawat hercules beberapa hari yang telah lewat, saya menjadi teringat kenangan "nano-nano" saya yang terjadi 10 tahun yang lalu. Ya kenangan manis, campur asem, dan sedikit pedes. Pengin tau?

Setelah merasakan hidup penuh warna di Ambon manise selama kurang lebih 1,5 tahun, tanggal 27 Juli 1999 pagi saya mendengar kabar yang menyejukkan hati. Hari itu sebenarnya di kantor sedang berlangsung acara pisah sambut pejabat eselon III. Namun karena situasi di luar mulai memanas lagi, setelah sempat adem ayem beberapa minggu, maka hati saya jadi gundah. Kebetulan SK mutasi saya dari Ambon ke Semarang telah diteken tanggal 12 Juli 1999. Betapa tidak gundah, setelah mengalami dan menyaksikan situasi yang kurang kondusif, aman, kembali panas, agak reda, memanas lagi, dst, dan berjuang untuk pindah dan akhirnya mendapat anugerah SK pindah, e.... sarana transportasi tidak tersedia. Pada saat itu PT Pelni tidak menjual tiket karena tidak ada kapal yang berani bersandar di pelabuhan ambon. Sementara jadwal penerbangan pesawatpun tak dapat diharapkan kepastiannya. Maka dengan adanya kabar kedatangan 3 (seingat saya 3) pesawat hercules yang datang di Ambon hari itu membawa pasukan TNI yang diperbantukan untuk mengatasi masalah keamanan pada saat itu sangatlah menggembirakan hati saya. Informasi ini saya terima dari mulut ke mulut di lingkungan GKN Ambon, tempat kerja sekaligus tempat pengungsian kami waktu itu. Awalnya pegawai BC yang bertugas di bandara menginformasikan kedatangan pesawat hercules ke pejabat BC yang akan pergi ke Jakarta.

Setelah mendapatkan pinjaman fresh money dari Mas Syafril (fungsional yang baru dilantik dan langsung minta cuti), dan berpamitan pada teman-teman yang berada di kantor, saya bersama rombongan menuju bandara ambon yang berjarak 30-45 menit perjalanan darat. Rombongan tersebut adalah pejabat eselon III Bea Cukai (yang mendapat dan membagi-bagi informasi adanya pesawat hercules), Pak Butje Kadmaer (Kabid IAP yang kebetulan dimutasi sebagai Ka. Karikpa di daerah Jawa Timur) beserta istri, dan 2 fungsional yg akan cuti tahunan setelah mengikuti acara pelantikan. Seingat saya ada 2 mobil kijang yang berangkat beriringan. Masing-masing mobil dikawal 2 aparat keamanan dengan senjata laras panjang menjulur keluar jendela mobil. Di sepanjang perjalanan, saya menyaksikan puluhan rumah dalam kondisi tidak utuh lagi, bahkan ada yang masih mengepulkan asap. Sungguh perjalanan yang sulit untuk dilupakan.

Begitu sampai di bandara Ambon, rasanya hati ini sudah sampai ke tanah jawa, tanah kelahiran yang begitu dirindukan. Setelah membayar uang administrasi sebesar Rp 750.000, saya dan 15-an penumpang lainnya merasakan jasa pesawat hercules dan kru-nya. Saat itu perjalanan sangat menyenangkan. Yang kuingat 2 pesawat sempat terbang beriringan, karena pesawat yang saya tumpangi di posisi depan, rasanya seperti dikawal pesawat lain. Sungguh pemandangan yang mengagumkan. Kamipun diberi kesempatan untuk melihat kokpit pesawat secara bergantian, walau cuma sebentar-sebentar. Dengan waktu tempuh 5 jam-an kami akhirnya mendarat di bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta dengan selamat dan penuh rasa haru. Terima kasih Hercules....., jasamu kan selalu kuingat....

Baca selengkapnya......

Minggu, 03 Mei 2009

Menghemat BBM dengan Powermax

Saat duduk di bangku sekolah dasar, kita diberi tahu oleh pak guru bahwa negara kita merupakan surga dunia. Penduduknya ramah, tanahnya subur, alamnya indah, hasil tambangnyapun melimpah ruah. Masih terngiang di telinga kita, saat itu dalam rangka menumbuhkan cinta tanah air, pak guru bercerita dengan semangat dan kebanggaan luar biasa, bahwa negara kita ini salah satu anggota OPEC, penghasil dan pengekspor minyak dunia. Dalam sejarah negara kita juga terukir kisah bahwa minyak pernah menjadi tulang punggung penerimaan dalam APBN kita.

Namun itu semua tinggal sejarah. Saat ini persediaan minyak kita tinggal se-umrit alias sedikit sekali. Dengan semakin menipisnya cadangan minyak yang kita miliki, tentunya kita harus segera mencari dan menerapkan penggunaan bahan bakar alternatif. Sambil menunggu hadirnya bahan bakar alternatif tersebut, kita juga harus menempuh upaya-upaya nyata penghematan energi, baik listrik maupun BBM.

Penghematan listrik dapat dilakukan dengan disiplin diri dalam mematikan listrik pada lampu dan peralatan listrik yang tidak terpakai, dan dengan mengganti lampu dan peralatan listrik yang hemat energi (watt lebih kecil, namun manfaat sama/lebih). Penghematan BBM dapat dilakukan dengan mengoptimalkan kendaraan bermotor yang dimiliki seefektif dan seefisien mungkin. Misalnya, kalau bisa berboncengan mengapa harus sendiri-sendiri.

Penghematan BBM juga dapat dilakukan dengan penggunaan suplemen bahan bakar tertentu. Salah satu contoh suplemen dimaksud adalah Power-MAX Double Action Fuel Catalyst (lebih akrab disebut powermax saja), yaitu campuran bahan bakar yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Menurut produsennya, manfaat penggunaannya antara lain : dapat meningkatkan tenaga dan akselerasi kendaraan, dapat menghemat BBM kendaraan sampai 30%, mencegah mesin ngelitik/detonasi, melarutkan kandungan air dari kondensasi (Penguapan) dalam tangki bahan bakar sehingga mencegah karat, mengurangi deposit karbon pada ruang bahan bakar, mengurangi kadar polusi pada gas buang.

Kebetulan saya juga mencoba dan merasakan sendiri manfaat powermax dimaksud, utamanya pada penghematannya. Dari searching berita/kabar di internet juga belum saya temukan keluhan penggunaan powermax, hanya saja kadang diperlukan pengecek filter bensin, siapa tau terlalu banyak kotoran yang larut dan menyumbat filter. (Kalau ada yang punya pengalaman buruk, ditunggu koment-nya ya....). Saat itu saya membeli sebotol powermax isi 100 cc (untuk max 60 liter) seharga Rp 25.000 dari tetangga rumah. Denger-denger sich penjualannya saat ini menggunakan sistem MLM di bawah bendera
PT UNITY NETWORK INTERNATIONAL.

Tulisan ini bukan merupakan bagian dari advertising produk powermax, namun semata-mata merupakan apreasi positif saya terhadap salah satu upaya penghematan BBM. Semoga bahan bakar alternatif yang murah meriah dan ramah lingkungan segera diproduksi secara masal dalam skala besar, untuk dapat menggantikan BBM yang selama ini menghantui kita. Sementara itu, suplemen BBM juga bertambah banyak variannya, sehingga harganya semakin murah dan mudah didapat di pasar biasa.


Baca selengkapnya......

Sabtu, 02 Mei 2009

Esuk dhele sore tempe?

Menyimak tingkah laku politikus dalam mensikapi hasil pileg dan rencana pilpres akhir-akhir ini, saya kadang bertanya-tanya, dunia politik itu rumit apa sengaja dibuat rumit ya? Masing-masing kubu / blok terlihat sibuk mencari celah-celah sempit yang akan mereka jadikan jalan lapang menuju kursi kekuasaan.

Sebelum pelaksanaan pileg 9 April yang lalu, rakyat Indonesia dipusingkan dengan terlalu banyaknya pilihan yang disodorkan pada mereka. Masing-masing caleg dan parpol berlomba-lomba menawarkan diri dan meyakinkan kepada khalayak, bahwa hanya merekalah satu-satunya caleg/parpol yang layak dan wajib dipilih kalau rakyat menghendaki kemakmuran dan kesejahteraan di masa depan. Namun setelah hasil perhitungan sementara diumumkan oleh berbagai lembaga survey nasional, parpol-parpol berusaha saling bekerja sama dalam beberapa golongan /blok (istilah balitanya : koalisi) untuk mewujudkan satu cita-cita jangka pendek, calon presiden dari golongan merekalah yang harus menang di pilpres nanti. Setelah terbentuk blok-blok tersebut, mereka berusaha meyakinkan seyakin-yakinnya, bahwa hanya capres dari blok merekalah yang nantinya dapat membawa perbaikan di negeri ini.

Bagaimana mungkin, hanya dalam hitungan bulan, hari, bahkan jam, parpol yang dulunya nampak beda, istimewa, setelah detik-detik menjelang pencalonan presiden mereka menyatakan adanya persamaan platform, visi misi, dan tujuan? Apakah demi meraih sebuah kursi kekuasaan, mereka rela memotong urat malunya, sehingga bebas berpandangan asal cita-citanya tercapai? Orang jawa bilang : esuk dhele sore tempe (pagi kedelai, sore dah berubah jadi tempe).
Gak konsisten !!!
Oportunis !!!
Menyebalkan !!!


Dengan tulisan ini bukan bearti saya tidak mendukung berlangsungnya pilpres. Namun semata-mata mencurahkan harapan saya agar parpol-parpol yang kebetulan belum mendapatkan suara banyak hendaknya konsisten dengan platfom, program kerja, visi misi yang telah ditetapkan dahulu saja. Dengan konsistensi yang tinggi untuk memperjuangkan nasib rakyat banyak (berani diluar pemerintahan), meskipun sekarang kalah bisa saja 5 tahun mendatang mereka menjadi jawara. So..., hindari "esuk dhele sore tempe", apalagi sampai "bengi tempe bosok" hanya demi meraih kursi pemerintahan. Ingat, jabatan adalah amanah, yang akan dipertanggung jawabkan kelak di hari pembalasan.

Baca selengkapnya......

Rabu, 29 April 2009

Mengasah ujung tombak

Kangen ! Itulah kata yang menggambarkan hati saya pada blog saya ini. Ya setelah sebulan lebih saya tidak mengupdate blog ini, rasa kangen itulah yang menghantarkan jari-jari saya untuk kembali berjingkat-jingkat di atas tuts acer ASPIRE 4935 kesayangan saya. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman "menyenangkan" tentang membeli starpack truff IM2.



Jumat sore 24 April 2009 yang lalu, saya bersama seorang teman menyempatkan diri mampir ke Gerai Indosat di Jl. Pandanaran 18 Semarang untuk membeli kartu perdana truff. Ceritanya teman saya mempunyai modem CDMA nganggur dan berniat untuk menggunakannya kembali setelah membaca iklan truff versi wayang kulit yang dimuat di harian Sauara Merdeka. Setelah menunggu 2 antrian, tibalah giliran kami dilayani dengan ramah oleh penjaga counter im2, seorang mbak cantik (lupa namanya, hehehe...). Namun sayang, keramahan dan kecantikannya kurang diimbangi dengan pengetahuan yang memadai tentang produk yang mereka tawarkan.

"Selamat sore pak, ada yang bisa saya bantu?", sapanya.

"Begini mbak, saya mau membeli starpack truff", jawab saya.

E... kebetulan habis pak. Terakhir dibeli oleh Mas-nya tadi", jawabnya manis.

"Lho.., tadi yang dibeli masnya khan starpack broom to mbak", sergahku. Kebetulan saya khan udah make broom unlimited, jadi tau warna cover starpacknya.

(Bip...! kesalahan pertama, masa pihak im2 gak lihai membedakan truff dengan broom)

"O... truf to. Kebetulan starpack truf juga habis pak", jawabnya.

(wuih... laris manis donk, bisik hati saya).

"Kalau di galeri indosat yang di pemuda ada nggak ya mbak", tanya saya selanjutnya.

"Juga habis Pak"

(wuih... benar-benar laris ya barang ini, bisik hati saya lagi)

"Tapi sementara ini truff bisanya di akses di Salatiga Pak", sambungnya.

"Ha???", saya terbengong.

"Kenapa di Semarang belum bisa mbak?", tanya saya penuh keheranan.

"Karena di Semarang belum tersedia roamingnya", jawabnya meyakinkan.<

(Bip...! kesalahan kedua, sesuai dengan spanduk warna biru yang saya baca di pertigaan RS Karyadi (dekat S. Parman), dan di perempatan Jl. Pemuda (dekat Sri Ratu) dan iklan di Suara Merdeka, nyata-nyata tertulis SEMARANG terlayani jaringan truff. Masa si mbak cantik dengan amat meyakinkan menyatakan layanan truff baru dapat dinikmati di Salatiga. Yang bohong spanduk dan iklannya apa mbaknya yang sok tahu ya???)

"Makasih ya mbak", pamit saya.

"Terima kasih kembali", jawabnya santun.

Sabtu 25 April 2009, saya mengunjungi pameran National IT Expo 2009 di Java Supermall. Betapa terkejutnya saya melihat banyak starpack im2 broom dan im2 truff yang dijual oleh salah satu counter yang ada. Counter tersebut bukan dari im2, namun menyediakan produk starpack im2, disamping menjual modem GSM dan CDMA, beserta beberapa perlengkapan komputer lainnya. Dari mereka saya mendapatkan penjelasan jika im2 truff memang sudah bisa dinikmati di Semarang. Hal ini saya informasikan pada teman saya yang berniat membeli starpack im2 truff tersebut.

Selasa 28 April 2009, teman saya akhirnya membeli starpack im2 truff seharga Rp 50.000 (padahal bandrolnya Rp 55.000). Untung ada pameran....

(Bip...! kesalahan ketiga, galeri indosat sebagai kantor cabang sampai kehabisan stock, sementara ada pihak ketiga yang mampu menyediakan barang bahkan dengan harga lebih murah)

Dari kejadian tersebut, dapat disimpulkan ujung tombak im2 di Semarang kurang tajam. Kesalahan bukan semata-mata terletak di mbak yang cantik itu. Namun juga dari pihak managemen yang "kurang" memberikan transfer knowledge pada karyawannya dan "kurang" menjaga ketersediaan stock barang ditengah gencarnya iklan yang mereka sampaikan. Maksud tulisan ini bukan untuk menjelek-jelekkan im2 dan jajarannya, namun semata-mata mengingatkan pada kita semua bahwa ujung tombak perusahaan / instansi haruslah benar-benar sering diasah agar terjaga ketajamannya, sehingga nama baik perusahaan/instansi dapat terpelihara. Disamping itu, dukungan semua lini perusahaan sangat diperlukan (dalam contoh, kerjasama antara pihak yang menjaga ketersediaan barang dan pihak pemasaran/iklan yang kurang sejalan perlu diperbaiki).

Baca selengkapnya......

Jumat, 27 Maret 2009

Caleg oh caleg.......

Tanggal 9 April 2009, dimana kredibilitas seorang caleg (sedikit-banyak) akan dipertaruhkan, tinggal beberapa hari lagi. Segala daya dan upaya dikerahkan para caleg untuk dapat merebut hati pemilih. Dari yang cuma menebar janji-janji doank, membagi sembako, membagi kaos, ataupun bahkan membagi-bagi uang baik secara terang-terangan ataupun secara gelap-gelapan. Intinya satu, mereka berusaha merebut hati kita, agar mau mencontreng namanya di "pesta demokrasi" yang akan segera kita gelar.

Dalam hati kecil, ingin kucontreng-contreng wajah para caleg yang dengan tanpa malu-malu telah berusaha membeli suara itu dengan pena yang tak dapat dihapus seumur hidupnya. Biar wajah mereka coreng-moreng sekalian. Bayangkan, hanya dengan modal 5 juta saja, "konon kabarnya" seorang caleg sudah berani berharap banyak untuk dapat meraih kemenangan dalam satu RW yang terdiri dari 2 TPS. Sungguh terlalu ! Sudah sebegitu murahkah arti "suara rakyat" di negeri ini? Dua puluh ribu rupiah untuk 5 tahun??? Belum menjadi wakil rakyat saja telah melakukan upaya pembodohan.

Bagi kita yang berpenghasilan cukup/lebih, diberi 1 juta per-suara-pun, barangkali pada hari H nya nanti bisa tetap milih seorang caleg sesuai hati nurani, mengingat penghasilan rutin kita jauh lebih besar dibanding "sogokan" caleg yang cuma se-upil tadi. Tetapi, bagi Saudara-saudara kita yang kebetulan berpenghasilan pas-pasan / kurang, kemungkinan akan benar-benar menjual suaranya dengan harga murah. Bukan karena mereka benar-benar bodoh, tapi karena telah dibodohi / dimanfaatkan para caleg yang didukung para "tokoh masyarakat" yang yang menjembatani terjadinya hubungan antara warga dan caleg tersebut. Warga kurang mampu bisa saja menganggap "pemberian" caleg itu sudah sepantasnya dibalas dengan pemberian suara. Bagi mereka, toh diberikan kepada siapapun suara itu, tidak akan mempengaruhi kehidupannya. "Sama-sama tidak berpengaruh bagi kehidupannya, tidak ada salahnya diberikan pada orang yang telah nyata-nyata memberikan bantuan, meskipun cuma 5 juta buat warga sekampung", dalih tokoh masyarakat yang bertindak sebagai broker.

Mumpung pemilu masih beberapa hari lagi, mari kita renungkan kembali bersama-sama. Apakah kita akan "menggadaikan" masa depan / nasib seluruh anak bangsa kepada caleg yang nyata-nyata telah berusaha melakukan jual-beli suara itu? Kalau iya, kasihan KPK. Beban berat menanti mereka, karena harus mengejar-ngejar koruptor yang akan bermunculan di kelak kemudian hari. Memberi kesempatan caleg yang tanpa malu-malu bersedia membeli suara, sama saja kita siap berhutang pada rentenir / lintah darat !

Alangkah bijaknya jika kita berprinsip : Sama-sama tidak mengenal caleg, jangan sampai memilih caleg yang getol membeli suara. Insya Allah, bangsa kita tidak hanya menjadi bangsa yang berkembang, tapi menjadi bangsa yang maju, yang dihargai bangsa-bangsa lain di seluruh penjuru dunia. Dengan perlawanan terhadap praktek jual-beli suara inilah, hidup kita tak akan tergadaikan. Kalau masih ada caleg yang amanah di sekitar kita, mengapa harus memilih caleg model rentenir / lintah darat?

Merdeka !!!!!

Baca selengkapnya......

Sabtu, 14 Maret 2009

Menggunakan Facebook dengan bijak

Tak terasa, saat ini demam facebook hampir terjadi dimana-mana. Mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, politikus, karyawan swasta, dan PNS-pun berbondong-bondong mencicipi enaknya menggunakan fasilitas facebook. Semua itu berawal dari kisah suksesnya Mr. Barrack Obama menduduki tahta kepresidenan yang antara lain disumbangkan oleh penggunaan facebook pada masa kampanyenya.

Yang menjadi persoalan, tidak semua pengguna mampu memanfaatkan facebook tersebut secara bijaksana. Pada beberapa orang facebook telah menjadi candu, dan digunakan secara berlebihan sehingga penggunaaan facebook dimaksud justru mengganggu kinerjanya, yang pada akhirnya juga mengganggu kinerja perusahaan/instansi tempat dia bekerja.

Sebelum jauh melangkah, mari kita bersama-sama menyimak artikel berikut ini :
1.
Sri Mulyani : Kalau Buka Internet, Jangan Hanya Facebook
2.
Facebook, Membuat Networking atau Not Working?
Dari dua artikel tersebut, dapat kita lihat betapa khawatirnya orang tua/pimpinan kita terhadap dampak buruk yang ditimbulkan penggunaan facebook pada mahasiswa/karyawannya. Kekhawatiran tersebut tidak dapat kita salahkan, mengingat kebiasaan kita (orang Indonesia) rata-rata kurang mempunyai kedisiplinan diri yang tinggi, sehingga kurang dapat membedakan kapan waktunya membuka facebook dan kapan seharusnya belajar/bekerja kembali dengan penuh konsentrasi dan dedikasi.

Lantas, bagaimana sikap kita dalam menghadapi fenomena facebook ini? Menolak hadirnya suatu fasilitas teknologi tentu dapat menjadikan kita kuper dan gaptek. Namun menggunakannya secara berlebihan tentu juga akan menimbulkan efek buruk. Yang terbaik tentunya adalah menggunakannya dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Istilah kerennya ya kita harus profesional dan proporsional. Cara yang dapat ditempuh antara lain :

Pertama : Gunakan sesuai kebutuhan, dan jangan terlalu menuruti keinginan.

Kedua : Mulai sekarang kurangi atau bila mungkin jangan online di facebook pada jam kerja, jika hanya sekedar iseng-iseng. Namun jika memang diperlukan dalam rangka penyelesaian suatu pekerjaan, mengapa tidak? Diskusi dengan teman (mengenai penyelesaian suatu pekerjaan) melalui fasilitas chatting di facebook tentu lebih menghemat biaya kantor dan jauh mengasyikkan jika dibanding harus menggunakan telpon interlokal. Sedang kalau mau iseng-iseng atau sekedar say hello pada teman lama, ya sebaiknya kita lakukan pada jam istirahat atau setelah pulang ke rumah masing-masing. Ringkasnya, jangan istirahat di jam kerja, dan jangan kerja di jam istirahat.
Begitukah?




Baca selengkapnya......

Jumat, 27 Februari 2009

Hikmah dibalik penangkapan pemain bola oleh polisi

Masih jelas dalam ingatan kita pada kejadian pasca pertandingan kompetisi Liga Indonesia Divisi Utama antara Persis Solo melawan Gresik United di Stadion Maladi, Solo, 12 Februari lalu, dimana sejumlah pemain terlibat baku pukul yang mengakibatkan situasi kacau balau. Menurut berita dari berbagai media masa, kerusuhan tersebut dipicu oleh pemukulan yang dilakukan Bernard Mamadou (Gresik United) terhadap Nova Zaenal (Persis Solo). Buntut kerusuhan tersebut, Kapolda Jawa Tengah Irjen (Pol) Alex Bambang Riatmodjo langsung memerintahkan aparatnya untuk menahan Nova dan Mamadou.

Hari-hari berikutnya, berita penangkapan pemain bola di lapangan tersebut telah menjadi polemik yang berkepanjangan. Polisi maupun PSSI sama-sama mempunyai argumen sendiri-sendiri. Menurut polisi, tidak ada ruang steril bagi siapapun yang melakukan kekacauan, termasuk pemain sepak bola sekalipun. Sedangkan menurut PSSI, langkah yang diambil polisi tersebut telah melanggar ketentuan dunia internasional, karena berdasarkan regulasi terbaru FIFA, setiap permasalahan yang terjadi di lapangan sepakbola tidak dapat diselesaikan oleh kepolisian, meskipun itu berbentuk perkelahian.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas mana yang lebih benar diantara pendapat pihak kepolisian atau pihak PSSI tersebut di atas. Sebab ahli hukum pun juga masih berbeda pendapat atas kejadian tersebut, apalagi saya yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan di bidang hukum.
Saya hanya ingin menyampaikan : Alangkah mulianya jika kedua belah pihak (polisi dan PSSI) bersedia untuk duduk semeja, bermusyawarah, guna mengambil suatu kesepakatan yang sifatnya win-win solusi. Kedua belah pihak hendaknya tidak mengedepankan ego-nya masing-masing. Jangan menganggap hanya pihaknyalah yang paling benar, sehingga menganggap sebelah mata pihak yang lain.

Saya yakin kedua belah pihak sebenarnya mempunyai niat mulia untuk kemajuan dunia persepakbolaan di Indonesia. Polisi menginginkan agar tidak ada lagi secuil kerusuhanpun di laga sepak bola tanah air. Begitu juga sebaliknya, PSSI tidak ingin tindakan penangkapan terhadap pemain sepak bola oleh polisi ini akan menjadi catatan buruk dari FIFA terhadap persepakbolaan Indonesia. Kalau sama-sama berniat baik, mengapa tidak dicoba untuk ditempuh dengan jalan yang baik-baik pula. Yang telah lalu biarlah berlalu. Yang lebih penting untuk dilakukan adalah agar segera dibuat kesepakatan bersama antara pihak kepolisian dan PSSI tentang langkah-langkah pengamanan yang sebaiknya dilakukan dalam pertandingan berikutnya. Kalau kedua belah pihak benar-benar berniat memajukan dunia persebak bolaan Indonesia, saya yakin mereka bisa bekerja sama dengan baik. Kita tunggu saja.......

Baca selengkapnya......